Opini Ketua DPD GAMKI NTT : 64 Tahun GAMKI- Turun ke Tanah atau Tenggelam di Seremoni?

Usia ke-64 seharusnya menjadi momentum kedewasaan. Bagi Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), pertanyaannya sederhana: masihkah kita berguna bagi rakyat, atau hanya sibuk merayakan diri sendiri?

Pertanyaan ini tidak nyaman. Tapi justru di situlah kejujuran dimulai.

Di Nusa Tenggara Timur, kami dipaksa belajar dengan cara yang keras: realitas tidak peduli pada pidato.

Ia hanya merespons kerja nyata. Di tengah angka stunting yang fluktuatif di angka 20-22 persen, kekerasan terhadap perempuan dan anak yang mencapai ratusan laporan per tahun, hingga krisis kesehatan mental yang membesar—organisasi seperti kami tidak punya banyak pilihan: berubah, atau ditinggalkan.

Jamban Lebih Penting dari Seminar

Kami memulai dari hal yang sering dianggap remeh: jamban. Di daerah dengan prevalensi stunting tinggi, sanitasi buruk bukan isu pinggiran; ia adalah kontributor utama kegagalan tumbuh kembang anak.

Namun inilah paradoksnya: terlalu banyak organisasi bicara soal masa depan bangsa, tapi enggan menyentuh akar masalah yang berbau.

Maka ketika kader-kader muda membangun jamban sehat di pelosok NTT, itu bukan kegiatan sosial biasa. Itu adalah Teologi Pembebasan yang praktis.

Ini adalah koreksi terhadap kebiasaan lama,termasuk kami yang terlalu nyaman dengan diskusi di hotel, tetapi jauh dari solusi di lapangan.

Satu jamban yang layak lebih bermakna daripada sepuluh seminar tanpa tindak lanjut.

Dari Mimbar ke Ruang Sidang

Kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTT bukan lagi rahasia, melainkan darurat. Data Simfoni-PPA menunjukkan angka kasus yang masih memprihatinkan, namun sering kali terbentur budaya diam dan tembok patriarki.

Terlalu sering korban diminta “bersabar” atas nama moralitas. Kami mencoba keluar dari pola itu.

Melalui kampanye publik dan kehadiran Klinik Hukum DPD GAMKI NTT, kami menegaskan bahwa keadilan tidak boleh menjadi barang mewah.

Iman tidak boleh hanya berhenti pada nasihat di mimbar; ia harus memiliki “gigi” di ruang sidang untuk memastikan penyintas mendapatkan perlindungan hukum yang setara.

Kesehatan Mental: Luka yang Selama Ini Disangkal

Ada satu krisis yang sering tidak terlihat: kesehatan mental. Generasi muda NTT bergumul dalam diam, namun ruang-ruang sosial dan keagamaan sering kali tidak siap mendengar.

Kami mulai membuka ruang konseling. Meski masih kecil dan terbatas, ini adalah pengakuan awal: bahwa iman tidak boleh menjadi tembok bagi mereka yang sedang terluka secara psikis.

Iman harus menjadi ruang aman (safe space) bagi mereka yang sedang berjuang melawan depresi dan kecemasan, bukan justru menghakimi.

Menanam Pohon, Menabung Air

Di NTT, krisis air bukan ancaman masa depan; ia sudah menjadi kenyataan hari ini. Bersama Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), kader GAMKI di berbagai daerah melakukan gerakan tanam pohon—mulai dari tanaman produktif hingga pohon pelindung.

Ini bukan sekadar simbol ekologis. Ini adalah upaya bertahan hidup. Iman yang tidak berpihak pada keberlanjutan bumi, pada akhirnya akan kehilangan relevansi di tengah kekeringan yang makin ekstrem.

Inklusivitas: Hak, Bukan Belas Kasihan

Semua orang bicara inklusivitas, namun realitasnya aksesibilitas fasilitas publik bagi lebih dari 30.000 penyandang disabilitas di NTT masih di bawah 15 % .

Berbicara tentang disabilitas bagi GAMKI bukan soal pencitraan atau belas kasihan, melainkan soal hak.

Apakah kita benar-benar membuka ruang bagi kawan-kawan disabilitas, atau kita hanya merasa sudah melakukannya?

Pertanyaan ini adalah ujian kejujuran bagi kami sendiri di usia ke-64 ini.

Organisasi Pemuda: Terlalu Sibuk dengan Diri Sendiri

Refleksi ini tidak berhenti di NTT. Organisasi pemuda di Indonesia hari ini menghadapi masalah yang sama: kehilangan arah.

Terlalu banyak energi habis untuk rapat koordinasi, seremoni, dan perebutan posisi.

Lebih berbahaya lagi, sebagian mulai nyaman menjadi bagian dari status quo. Kedekatan dengan elite dianggap prestasi, sementara kritik dianggap risiko.

Akibatnya jelas: organisasi pemuda tidak lagi menjadi kekuatan perubahan (agent of change), melainkan sekadar lumbung suara politik.

Dan kami di GAMKI NTT sadar, kami tidak kebal dari godaan itu.

Antara Gerakan dan Panggung

Kami juga merasakan godaan yang sama: panggung dan pengakuan.

Namun tanpa konsistensi, semua yang sudah dimulai—jamban, advokasi hukum, ruang konseling, akan berhenti sebagai proyek sesaat.

Pertanyaannya bukan lagi “apa yang sudah dilakukan”, tetapi “apa yang bisa bertahan”.

Penutup: Pilihan yang Tidak Bisa Ditunda

Di usia ke-64, GAMKI tidak kekurangan sejarah. Tetapi sejarah tidak otomatis membuat kita relevan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk “turun ke tanah”. Ke jamban warga, ke ruang konseling, ke pengadilan, dan ke kebun-kebun rakyat.

Jika tidak, organisasi ini hanya akan menjadi panggung yang ramai dan meriah, tetapi kosong dari makna.

Pada akhirnya, pertanyaannya adalah: ketika rakyat membutuhkan, apakah kita benar-benar hadir sebagai berkat, atau hanya sibuk merayakan ulang tahun di tengah penderitaan yang kita pilih untuk tidak kita lihat? (*Fendi)