Follow kamu

๐๐ข๐๐ฃ ๐ฉ๐๐ฃ๐ฅ๐ ๐ฉ๐๐ฃ๐๐๐ ๐๐ฃ ๐๐๐ฃ๐ฎ๐๐ก๐๐ ๐๐๐ข๐ ๐ ๐ค๐จ๐ค๐ฃ๐ ๐๐ ๐ง๐ช๐๐ฃ๐ ๐จ๐ช๐ฃ๐ฎ๐: ๐๐๐ฃ๐๐๐๐จ๐ฉ๐ค ๐๐๐ข๐ช๐๐ ๐๐ง๐๐จ๐ฉ๐๐ฃ ๐๐ ๐๐จ๐๐ 64 ๐๐๐๐ช๐ฃ ๐๐ผ๐๐๐, Oleh : Jekson Hamba Pulu, S.Pd Waket DPC GAMKI Sumba Timur
Enam puluh empat tahun bukan sekadar angka. Ia adalah jejak panjang pergumulan, pengorbanan, dan kesetiaan. Dari tahun 1962 hingga hari ini, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) telah berdiri sebagai saksi bahwa iman bukan hanya untuk diyakini, tetapi untuk diperjuangkan. Kini, di usia ke-64, sebuah pertanyaan mendasar menggema bagi pemuda Kristenโkhususnya di tanah Nusa Tenggara Timur: apakah iman kita masih bertumbuh, atau justru terjebak dalam rutinitas yang beku?
Tema โIman yang Bertumbuh, Pelayanan yang Berbuahโ bukan slogan kosong. Ini adalah panggilan kerasโbahkan bisa terasa menamparโbagi generasi muda yang sering kali nyaman dalam zona aman, tetapi enggan melangkah ke medan pelayanan yang nyata. Iman yang sejati tidak lahir dari kata-kata manis di mimbar, melainkan dari keberanian menghadapi realitas: kemiskinan, ketidakadilan, keterbelakangan pendidikan, dan krisis moral yang masih menghantui banyak wilayah di NTT.
Pemuda Kristen tidak dipanggil untuk menjadi penonton sejarah. Kita adalah pelaku. Kita bukan generasi yang sekadar mewarisi iman, tetapi generasi yang harus membuktikan iman itu hidup. Sebab iman tanpa tindakan hanyalah gema kosong di ruang sunyi.
Di NTTโtanah yang kaya akan budaya, tetapi juga penuh tantanganโiman harus menemukan bentuknya dalam kerja nyata. Ketika petani berjuang melawan musim yang tak menentu, iman hadir dalam solidaritas. Ketika anak-anak putus sekolah karena keterbatasan ekonomi, iman hadir dalam gerakan literasi. Ketika suara rakyat kecil diabaikan, iman menjelma menjadi keberanian untuk bersuara.
Namun mari jujur: tantangan terbesar pemuda Kristen hari ini bukan hanya dari luar, tetapi dari dalam diri sendiri. Sikap apatis, mental instan, dan ketergantungan pada kenyamanan telah menjadi โpenyakit diam-diamโ yang menggerogoti semangat pelayanan. Kita ingin hasil besar, tetapi enggan melalui proses. Kita ingin perubahan, tetapi takut mengambil risiko.
Di sinilah makna iman yang bertumbuh. Ia tidak statis. Ia menuntut kita untuk terus belajar, berproses, bahkan jatuh dan bangkit kembali. Iman yang bertumbuh adalah iman yang berani dikoreksi, berani berubah, dan berani melampaui batas diri.
Dan dari iman seperti itulah lahir pelayanan yang berbuah. Bukan pelayanan yang sekadar terlihat sibuk, tetapi pelayanan yang memberi dampak. Buah itu nyata: kehidupan yang diubahkan, komunitas yang diberdayakan, dan harapan yang dinyalakan kembali.
Dies Natalis ke-64 GAMKI harus menjadi momentum refleksi sekaligus revolusi. Bukan hanya merayakan masa lalu, tetapi menegaskan arah masa depan. Pemuda Kristen NTT harus bangkit sebagai generasi yang berpikir kritis, bertindak strategis, dan melayani dengan hati yang tulus.
Jangan tunggu keadaan ideal untuk mulai bergerak. Sejarah besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak penonton yang pandai berkomentar, tetapi pelayan-pelayan yang berani turun tangan.
Hari ini, panggilan itu jelas:
Tumbuhkan imanmu. Buktikan lewat pelayananmu.
Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukan seberapa lantang kita berbicara tentang iman, tetapi seberapa nyata kita menghadirkannya dalam kehidupan.
Selamat Dies Natalis ke-64 GAMKI.
Saatnya pemuda Kristen NTT berdiri, bergerak, dan berbuah.
“Cinta Tuhan, Cinta Nusa dan Bangsa”
ORA ET LABORA



