Follow kamu

Pelantikan DPC GAMKI TTS, Empat Tokoh Serukan Satu Pesan: Saatnya Bergerak dan Ciptakan Perubahan
Soe, GAMKINTT.com — Pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) masa bakti 2025–2028 menjadi momentum untuk mendorong organisasi kepemudaan Kristen tersebut tampil lebih nyata dalam menjawab berbagai pers.oalan masyarakat, Sabtu (29/8/2026).
Pesan itu mengemuka dalam pelantikan DPC GAMKI TTS yang dihadiri berbagai elemen, dengan empat tokoh menyampaikan dorongan yang sejalan: GAMKI tidak boleh berhenti pada seremoni, visi-misi, dan aktivitas organisasi, tetapi harus berani bergerak, membangun kolaborasi, serta menciptakan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.
Keempatnya yakni Ketua DPD GAMKI NTT Winston Rondo, Ketua DPC GAMKI TTS Albinus Kase, Wakil Bupati TTS Army Konay, S.H., dan Kapolres TTS AKBP Kristiyan B. Martino, S.H., S.I.K., M.M., CELM.
Wakil Bupati TTS Army Konay, S.H., memberikan apresiasi kepada pengurus DPC GAMKI TTS yang baru dilantik. Ia mengingatkan bahwa janji kepengurusan yang telah diucapkan bukan hanya formalitas, tetapi merupakan tanggung jawab di hadapan Tuhan dan masyarakat.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan kepemimpinan yang berkarakter, responsif dan memiliki dedikasi.
“Pemimpin yang berkarakter, pemimpin yang merespons, pemimpin yang memiliki dedikasi,” ujarnya.
Ia meminta kader GAMKI memiliki keberanian untuk mengambil bagian dalam pembangunan dan mempersiapkan diri sebagai pemimpin masa depan.
“Saya meminta kepada semua teman-teman GAMKI, kita harus punya keberanian untuk menjadi kader-kader pembangunan masa depan,” tegasnya.
Menurutnya, pemuda memiliki posisi strategis, baik bagi gereja maupun masyarakat.
“Pemuda adalah pilar keberlanjutan gereja. Pemuda adalah penggerak dan pendorong perubahan zaman,” katanya.
Ia juga memastikan Pemerintah Kabupaten TTS membuka ruang kolaborasi dengan GAMKI untuk melanjutkan program-program kepengurusan sebelumnya sekaligus mengembangkan program baru yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Untuk melanjutkan dan meneruskan program-program dari pengurus yang lalu, sekaligus membantu Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan untuk berkolaborasi ke depan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa program inovasi yang dijalankan GAMKI dan memberikan manfaat bagi masyarakat akan mendapat perhatian dari pemerintah daerah.
“Pemda TTS mendukung organisasi GAMKI ini. Apa yang disampaikan tadi menjadi perhatian khusus bagi Pemda TTS,” katanya.
Ia juga memberikan penekanan khusus terhadap karakter gerakan GAMKI.
“Kalau gerakannya Angkatan Muda Kristen, ini gerakannya harus berbeda. Gerakannya harus tetap diperhitungkan, dan terlihat diam tapi tetap bergerak secara nyata,” tegasnya.
Ketua DPD GAMKI NTT Winston Rondo menegaskan bahwa pelantikan bukan sekadar momentum untuk mengenakan jas organisasi atau menambah jabatan dalam curriculum vitae.
Menurutnya, pengurus baru dilantik untuk memastikan GAMKI hadir di tengah persoalan nyata masyarakat.
“Kalau kita berjalan sedikit keluar dari Kota SoE, masuk ke desa-desa TTS, kita akan bertemu banyak orang muda. Ada yang sedang mencari pekerjaan, ada yang bertani dengan segala keterbatasan, ada yang ingin melanjutkan sekolah tetapi terbentur biaya, ada yang punya kemampuan tetapi tidak tahu harus mulai dari mana,” ujarnya.
Ia kemudian mengajukan pertanyaan yang menurutnya harus menjadi refleksi bagi seluruh pengurus.
“Di tengah pergumulan orang-orang muda itu, di mana GAMKI?” katanya.
Ia meminta DPC GAMKI TTS menggunakan masa bakti 2025–2028 secara efektif. Ia mengingatkan agar organisasi tidak menghabiskan waktu hanya untuk konsolidasi dan rapat.
“raker hari ini harus menjawab empat hal sederhana: apa yang mau kita kerjakan, siapa yang mengerjakan, kapan selesai, dan perubahan apa yang ingin kita hasilkan,” tegasnya.
Ia bahkan meminta pengurus tidak terjebak pada banyaknya program.
“Lebih baik tiga sampai lima program selesai dan berdampak, daripada tiga puluh program bagus yang hanya tinggal dalam dokumen Raker,” ujarnya.
Menurutnya, program GAMKI harus berangkat dari persoalan nyata di TTS, seperti pemuda dan lapangan kerja, pendidikan, pertanian dan ketahanan pangan, krisis air dan lingkungan, perlindungan perempuan dan anak, serta kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Pilih beberapa yang paling penting dan kerjakan serius. Sebab GAMKI yang relevan adalah GAMKI yang programnya lahir dari persoalan rakyat di tempat ia berdiri,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar GAMKI tidak hanya beraktivitas di pusat kabupaten.
“Jangan menjadi ‘GAMKI Kota SoE’. Bergerak sampai ke basis,” tegasnya.
Menurutnya, GAMKI harus membangun jejaring dengan gereja dan klasis, senior GMKI, komunitas pemuda, pemerintah, kampus, serta berbagai kelompok masyarakat.
“GAMKI harus menjadi rumah besar tempat orang muda Kristen TTS belajar, bertumbuh, melayani dan mengambil tanggung jawab,” ujarnya.
Ketua DPC GAMKI TTS masa bakti 2025–2028 Albinus Kase menegaskan bahwa kepengurusan baru harus memiliki keberanian dalam menghadapi tantangan zaman.
“Masa depan itu bukan hanya pada yang kita inginkan. Tapi masa depan itu ada pada keberanian kita,” ujarnya.
Ia menilai transformasi global menuntut generasi muda untuk memiliki cara pandang yang lebih luas dan tidak hanya terpaku pada persoalan lokal.
“Transformasi global membawa kita untuk tidak hanya berpikir dan bertindak lokal, tapi global,” katanya.
Karena itu, Ia mengajak kader GAMKI untuk mengambil posisi sebagai agen perubahan, bukan sekadar menjadi penonton.
“Kita jangan hanya menunggu dan melihat sebuah perubahan. Tetapi kita menciptakan perubahan. Kita berubah, dan kita mendorong perubahan itu untuk semua orang,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya perhatian terhadap anak-anak, remaja dan pemuda sebagai bagian dari pergumulan organisasi ke depan.
Menurutnya kepengurusan baru harus membangun komitmen yang kuat agar keberadaan GAMKI benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kapolres TTS AKBP Kristiyan B. Martino, S.H., S.I.K., M.M., CELM., mengingatkan GAMKI agar tidak berhenti pada penyusunan visi dan misi.
Menurutnya, persoalan pembangunan TTS membutuhkan kesepakatan dan kolaborasi berbagai elemen masyarakat.
“Yang diperlukan di TTS ini adalah kesepakatan berbagai elemen masyarakat untuk bagaimana kita membangun TTS,” ujarnya.
Ia meminta pengurus GAMKI terlebih dahulu mengidentifikasi persoalan yang menjadi pergumulan masyarakat sebelum menentukan program.
Ia menegaskan bahwa program tidak harus besar. Yang terpenting adalah program tersebut konkret, dapat dilaksanakan dan memberikan dampak.
“Tidak perlu terlalu besar-besar banget, tapi bagaimana visi-misi itu bisa dilaksanakan dan harapannya dapat memberikan dampak bagi masyarakat di Timor Tengah Selatan,” katanya.
Ia kemudian mencontohkan sebuah komunitas pemuda di Kelurahan Kapan yang bersepakat untuk tidak menggelar pesta malam dan menyumbangkan dana yang mereka kumpulkan kepada posko.
Menurutnya, tindakan sederhana tersebut menunjukkan bahwa komunitas kecil sekalipun mampu memberikan kontribusi nyata.
“Kalau komunitas pemuda yang kecil-kecil ini saja mampu berempati, mampu untuk melakukan tindakannya, bagaimana dengan organisasi-organisasi yang lebih besar ini?” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa visi dan misi tanpa tindakan konkret tidak akan menghasilkan perubahan.
“Kalau kita punya visi-misi apa pun itu, kalau tidak ada perbuatan, tidak ada tindakan, hanya omong-omong saja, apa konkretnya? Lalu indikator-indikator keberhasilannya apa?” tegasnya.
Ia juga mendorong GAMKI untuk tidak berjalan sendiri. Menurutnya, berbagai persoalan TTS membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
“Kita harus bersama, berkolaborasi,” katanya.
Ia meminta GAMKI merangkul komunitas dan organisasi lainnya untuk membangun kekuatan bersama.
“Program sendiri mungkin ada, tapi program bersama harus juga ada,” ujarnya.
Hal tersebut sejalan dengan harapan Wakil Bupati Army Konay yang memastikan Pemerintah Kabupaten TTS terbuka terhadap kerja sama dengan GAMKI dalam menjalankan berbagai program yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Jangan hanya menyalin program DPD. Temukan satu atau dua inovasi khas GAMKI TTS yang suatu hari justru bisa dipelajari oleh DPC lain di NTT,” katanya.
Pesan yang disampaikan keempat tokoh tersebut bermuara pada satu hal: kepengurusan baru DPC GAMKI TTS harus menjadikan pelantikan sebagai awal dari kerja nyata.
Pemerintah daerah membuka ruang kolaborasi, kepolisian mendorong program konkret dan kerja bersama, DPD GAMKI NTT memberikan dukungan sekaligus tantangan untuk turun hingga basis, sementara kepengurusan DPC GAMKI TTS menyatakan komitmen untuk berani mengambil peran sebagai agen perubahan.(Fendi)



