Opini Ketua DPD GAMKI NTT : Menanam Iman di Tanah Kering, Liturgi Hijau Dari Bumi Flobamora

Beberapa hari terakhir kita masih mendengar sisa rintik hujan jatuh di atap seng rumah-rumah di Nusa Tenggara Timur. Tanah yang basah selalu menghadirkan rasa syukur bagi setiap keluarga petani.

Namun di balik syukur itu, tersimpan kecemasan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Masyarakat NTT tahu betul bahwa musim hujan di daerah ini selalu datang singkat dan pergi terlalu cepat.

Curah hujan tahunan di sebagian besar wilayah NTT hanya berkisar antara 800 hingga 1500 milimeter, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai sekitar 2700 milimeter per tahun.

Dalam praktiknya, hujan sering kali hanya berlangsung tiga hingga empat bulan, sementara kemarau dapat membentang hingga delapan bulan.

Artinya, setiap tetes air hujan adalah kehidupan.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah kita membiarkan air hujan itu mengalir begitu saja menuju laut, atau kita belajar menyimpannya di dalam tanah?

Di tengah lanskap yang sering dilabeli sebagai wilayah kering, Tuhan sebenarnya telah menitipkan potensi besar di bumi Flobamora. Tanah yang tampak keras itu sesungguhnya mampu menyimpan air jika manusia mengelolanya dengan bijaksana.

Karena itu, perjuangan menjaga air di NTT bukan hanya persoalan teknis pertanian atau pembangunan semata. Ia adalah persoalan iman, tanggung jawab moral, sekaligus panggilan sejarah bagi masyarakat yang hidup di tanah ini.

Liturgi Hijau: Iman yang Memulihkan Ciptaan

Dalam berbagai arah pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Ketua Majelis Sinode GMIT Pendeta Samuel Pandie sering mengingatkan bahwa gereja tidak boleh hanya hidup di dalam pagar gedung ibadah.

Iman Kristen tidak boleh berhenti pada keselamatan jiwa semata, sementara tubuh jemaat bergumul dengan kemiskinan dan alam ciptaan terus mengalami kerusakan.

Karena itu, gerakan menanam pohon sesungguhnya bukan sekadar kegiatan penghijauan.

Ia adalah liturgi hijau—sebuah bentuk ibadah yang diwujudkan dalam tindakan merawat bumi.

Alkitab sejak awal telah menegaskan mandat itu. Dalam Kejadian 2:15, manusia ditempatkan di taman Eden untuk “mengusahakan dan memelihara” bumi.

Mandat ini bukan sekadar perintah ekonomi untuk memanfaatkan alam, tetapi juga panggilan spiritual untuk menjaga keberlangsungan ciptaan.

Dengan cara pandang ini, menanam pohon bukan sekadar kegiatan ekologis.

Ia adalah tindakan iman. Setiap bibit yang ditanam adalah kesaksian bahwa manusia percaya bumi ini adalah titipan Tuhan yang harus dipelihara bagi generasi yang akan datang.

Ekonomi Pohon: Menanam Harapan bagi Jemaat

Namun gerakan menanam pohon di NTT tidak boleh berhenti sebagai simbol moral atau seremonial lingkungan. Ia harus menjadi strategi ekonomi rakyat.

NTT membutuhkan paradigma baru pembangunan pedesaan yang bertumpu pada ekonomi pohon—sebuah model ekonomi yang menggabungkan konservasi lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu contoh nyata adalah Asam Timor (Tamarindus indica).

Pohon ini adalah tanaman asli yang sangat adaptif terhadap iklim kering NTT. Ia mampu bertahan dalam kondisi tanah yang keras, memiliki umur produktif puluhan tahun, dan menghasilkan buah dengan nilai ekonomi yang stabil.

Satu pohon asam dewasa bahkan dapat menghasilkan puluhan hingga ratusan kilogram buah setiap tahun.

Di berbagai daerah, asam telah menjadi komoditas perdagangan yang menopang ekonomi rumah tangga.

Karena itu, pohon asam dapat dipandang sebagai tabungan hidup bagi keluarga petani.

Dalam skala gerakan, DPD GAMKI NTT bersama jemaat di Klasis GMIT Amabi Oefeto Timur telah memulai langkah kecil tetapi penting.

Sepanjang tahun 2025, kebun bibit yang dikelola bersama berhasil memproduksi sekitar 10.000 anakan pohon Asam Timor, yang telah ditanam di berbagai wilayah pelayanan.

Sepuluh ribu bibit itu bukan sekadar angka. Ia adalah sepuluh ribu kemungkinan masa depan.

Selain asam, komoditas pohon lain seperti kemiri, kopi, nangka dan jeruk juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari hutan ekonomi rakyat.

Menanam Air di Tanah NTT

Namun menanam pohon di wilayah kering membutuhkan pengetahuan dan kedisiplinan.

Laporan iklim menunjukkan bahwa NTT kini memasuki fase transisi menuju akhir musim hujan.

Dalam beberapa minggu ke depan, kelembaban tanah akan cepat berkurang akibat panas dan angin kemarau.

Karena itu, gerakan menanam pohon harus disertai dengan upaya menanam air.

Konsep ini diperkenalkan oleh akademisi NTT, Prof. Zeth Malelak, yang menekankan pentingnya menciptakan ruang resapan air di sekitar tanaman melalui pembuatan cekungan tanah atau lubang resapan.

Tujuannya sederhana: agar air hujan tidak langsung mengalir sebagai limpasan, tetapi meresap dan tersimpan di dalam tanah sebagai cadangan air bagi tanaman selama musim kemarau.

Dengan cara ini, setiap pohon yang ditanam tidak hanya tumbuh sebagai tanaman, tetapi juga menjadi penjaga sumber air di masa depan.

Namun kita juga harus jujur mengakui satu tantangan besar yang sering membuat banyak program penghijauan gagal di NTT: ternak yang dilepasliarkan.

Bibit yang ditanam dengan susah payah dapat habis dimakan dalam satu malam jika tidak dilindungi dengan baik.

Karena itu, menanam pohon harus disertai dengan komitmen perawatan yang serius. Setiap bibit membutuhkan pagar, pengawasan, dan perhatian hingga ia cukup kuat untuk bertahan.

Menanam adalah memulai kehidupan.

Merawat adalah menjaga kehidupan itu sendiri.

Pertobatan Ekologis dari NTT

Gereja dan organisasi kepemudaan seperti GAMKI sebenarnya memiliki kekuatan besar untuk menggerakkan perubahan ini.

Jaringan jemaat yang tersebar hingga ke pelosok desa merupakan modal sosial yang sangat berharga.

Jika pemuda gereja bergerak bersama—dengan panduan ilmu pengetahuan, kedisiplinan merawat tanaman, dan kesadaran iman—maka yang sedang kita lakukan sesungguhnya adalah sebuah pertobatan ekologis.

Kita sedang mengubah cara kita memperlakukan bumi.

Suatu hari nanti, kita berharap dunia tidak lagi mengenal NTT hanya sebagai wilayah yang identik dengan kekeringan. Kita ingin orang melihat NTT sebagai tanah harapan: wilayah di mana pohon-pohon tumbuh sebagai sumber ekonomi, mata air tetap terjaga karena tanah mampu menyimpan air, dan masyarakat hidup bermartabat dari kerja tangannya sendiri.

Di tanah ini, iman tidak hanya hidup dalam doa dan ibadah.

Ia bertumbuh dari tanah, meresap melalui air, dipagari oleh kepedulian, dan berbuah dalam kesejahteraan bersama.

Mari menanam pohon.

Mari menanam air.

Mari menanam masa depan Flobamora.

Tuhan memberkati pelayanan kita semua mama.(*Fendi)