Menjadi harapan dalam kecemasan

1 Samuel  17 : 10 – 11 dan  ayat  32 – 39
Ibadah Bulanan GAMKI (Desember 2025)

Tentara Israel di bawah kepemimpin Saul sedang berperang dengan tentara Filistin selama 40 hari. Goliat si raksasa Filistin yang jago perang sungguh-sungguh telah mencemaskan hati Saul dan segenap tentara Israel. Mereka merasa sangat ketakutan. Goliat menantang dengan cara perang satu lawan satu. Di tengah ketakutan ini Daud muncul dengan keberanian dan iman yang teguh kepada Allah bersiap untuk melawan Goliat. Dan kisah ini berakhir dengan kemenangan Israel karena Daud berhasil membunuh Goliat.

4 hal penting yang dapat kita renungkan dalam kisah ini :

  1. Kecemasan apa yang sedang melanda kita : bencana alam mengancam kita ; banjir, longsor dan gempa bumi bahkan tsunami, persoalan pelayanan publik yang belum adil dan merata di mana-mana, beberapa waktu ini kita digemparkan dengan data tingginya angka pengidap HIV di NTT pada usia remaja. Kita nyaris dapat membayangkan masa depan NTT dalam 10 –  20 tahun ke depan, makin banyak orang yang mati muda dalam usia produktif. Situasi ini tidak saja menyedihkan namun sangat menecemaskan. Namun Tuhan memanggil dan memilih kita di tengah-tengah situasi ini.
  2. Tantangan Goliat untuk satu lawan satu menggambarkan,  panggilan pribadi-pribadi kita sebagai GAMKI. Dan panggilan pribadi itulah yang akan dipakai Allah untuk menyelamatkan bangsa kita. Seperti Daud menjadi harapan dalam kecemasan dan ketakutan bangsa Israel, demikianlah kita pun dipanggil untuk menjadi harapan dalam situasi cemas yang kita alami. Begitu juga dengan kisah para tokoh Alkitab dipanggil Tuhan menyelamatkan keluarga dan bangsanya : Nuh, Abraham, Ishak dan Yakub, Musa, Yosua, Rut, Ester  dan lain-lain.
  3. Tiga ciri pirbadi harapan dalam bacaan kita adalah : Tidak tawar hati, mulai dari apa yang kita bisa, banggakan kisah sukses kita menjadi kesaksian tentang hebat dan baikNya Tuhan. Pertama-tama bersikap tidak tawar hati alias mundur, cuek, masa bodoh atau acuh tak acuh dan takut. Punya hati untuk berjuang dan menaruh andil dengan sepenuh hati dalam setiap karya – karya baik kita, bagi keluarga, gereja dan bangsa kita. Kekuatan dan fasilitas kita mungkin sangat terbatas, kecil bahkan hampir tidak ada, namun kita punya iman pada Allah yang hidup dan berkuasa. Percaya bahwa Allah akan memfasilitasi kita yang maju berjuang. Kita bergerak bukan karena kita bisa, namun karena  reputasi nama Allah yang kita junjung tinggi.
  4. Murnikan motivasi dan panggilan perjuangan kita dalam menjadi harapan di tengah kecemasan. Daud tak perlu baju perang dan atributnya. Jangan hanya andalkan kekuatan uang, jabatan atau kehebatan manusia atau tak perlu ada kepentingan lain selain memuliakan nama Tuhan dan menolong sesama, kepentingan lain yang membawa keuntungan diri atau kelompok, kemudahan pribadi atau perkaranya lainnya yang tidak sesuai dengan kepentingan Tuhan hanyalah membuat kita susah berjalan bahkan tidak bisa jalan, tanggalkanlah.

Harapan itu bukan kata-kata harapan itu seorang pribadi, harapan itu saya dan saudara,  tidak cukup dengan usaha, milikilah iman yang teguh, tidak cukup beriman, murnikan hati kita murnikan gerak perjuangan kita, untuk keluarga, gereja dan bangsa yang berkemenangan.   Ora et labora .. Shalom ..